Belajar dari Keteladanan Nabi Ibrahim

Belajar dari Keteladanan Nabi Ibrahim

Belajar dari Keteladanan Nabi Ibrahim Ilustrasi

Allah Ta'ala, berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرٰهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ ۥ ٓ ...

"Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya..." (QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 4)

Di Ayat yang lain Allah Ta'ala,  berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْىَ قَالَ يٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرٰى فِى الْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى  ۚ  قَالَ يٰٓأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ  ۖ  سَتَجِدُنِىٓ إِنْ شَآءَ اللَّهُ مِنَ الصّٰبِرِينَ

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

Ada beberapa hikmah dan Pelajaran yang sangat penting yang bisa kita ambil dari untaian ayat diatas, 

Bahwa kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan di dalam kehidupan dunia ini dan di akherat kelak, kecuali jika kita mau mengorbankan apa yang kita cintai. Nabi Ibrahim as berhasil meraih predikat kholilullah ( kekasih Allah ), karena telah mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya yaitu berupa anak, demi mencapai kecintaan kepada Allah Ta'ala.

Sikap di dalam menghadapi ujian kehidupan dunia ini, kita harus sabar dan tawakkal, serta menyerahkan diri kepada Allah Ta'ala, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Berbeda dengan orang orang yang tidak beriman dan tidak mempunyai keyakinan kepada janji janji Allah, mereka akan goncang dan stress jika kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, apalagi anak satu-satunya yang dinantinya sekian lama kemudian sedang beranjak dewasa.

Kemudia Allah Ta'ala hendak menguji Nabi Ibrahim as, apakah anak yang telah lama dinanti nantikan tersebut, yang telah lama dirawat dan didiknya sehingga menjadi dewasa dan sangat menyejukkan hati orang tuanya itu...apakah akan melalaikannya dari ibadah dan taat kepada Allah Ta'ala? disinilah Nabi Ibrahim as diuji. Apakah dia lebih mencintai anak atau mencintai Allah? Ternyata Nabi Ibrahim as, secara baik telah mampu melewati ujian tersebut. Ia telah menempatkan kecintaannya kepada Allah di atas segala galanya. Dia segera melaksanakan perintah Allah Ta'ala untuk menyembelih anaknya, dia sangat menyakini bahwa setiap yang diperintahkan Allah akan selalu berakibat baik. Sebaliknya, kalau dia tetap lebih mencintai anaknya dan melalaikan perintah Allah , niscaya dia termasuk orang orang yang merugi.
 
Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia




Sumber : Suara-Islam

Comments

Popular posts from this blog

Tim Barzah Bantu Evakuasi Jenazah Tenggalam di Danau

Kisah Ade, Mantan Kuli Pasar yang Jadi Penulis Buku