Save Ulama Rohingya

Save Ulama Rohingya

AP/ Fareed Khan

REPUBLIKA.CO.ID,Innalillahi.... pada Rabu, 6 September 2017 lalu, seorang ulama Rohingya gugur sebagai salah satu korban tragedi Rohingya. Dialah Syaikh Faizul Islam bin Abdul Jabbar (62 tahun), seorang ulama terkemuka yang disegani di Buthidaung, Arakhan, Myanmar.

Pembunuhan ini mengingatkan peristiwa serupa pada 3 Juni 2012, tatkala sepuluh ulama Rohingya diculik dan dibunuh dalam perjalanan darat melalui Tangu menuju Arakhan. Burma Times menulis bahwa para tokoh muslim itu dibunuh atas tuduhan penistaan terhadap seorang gadis bernama Thida Htwe yang sesungguhnya tidak pernah diketahui atau hanya tokoh fiktif.

Pembunuhan ulama jelas peristiwa besar. Kata ‘ulamâ’ (bentuk plural dari ‘âlim), secara bahasa artinya ‘’orang yang berpengetahuan, ahli ilmu’’. Karena itu, ‘’Di tengah-tengah umat, ulama bagaikan lentera yang bersinar terang, membimbing dan menunjukkan jalan yang benar. Apabila ulama terbenam, maka jalan akan kabur’’ (HR Imam Ahmad).

Secara esensial, ulama adalah warasah al-anbiyâ’ (pewaris para nabi). Merekalah penerima dan penerus tongkat estafet tugas para nabi dan rasul dalam menyampaikan dakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar.

Ulama sejati, menurut Imam Nawawi Al Bantani, memiliki sejumlah ciri antara lain: Memiliki keimanan yang kokoh, ketakwaan yang tinggi, jiwa yang istiqamah (konsisten), dan tulus-ikhlas dalam beramal. Mereka memiliki sifat-sifat kerasulan yaitu jujur (shiddîq), amanah (amânah), cerdas (fathânah), dan menyampaikan (tablîgh). Mereka juga faqîh fî ad-dîn sampai râsikhûn fî al-'ilm (luas dan mendalam pemahamannya).

Selain itu, ulama sejati mengenal situasi dan kondisi masyarakat. Dan mereka mengabdikan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan dan menegakkan hukum-hukum Allah.

Pada masa keemasan Islam, banyak ulama sejati. Di era Sahabat Nabi, misalnya, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Muadz bin Jabal, dan lain sebagainya adalah para ulama besar. Pada masa awal-awal Islam mereka menjadi panutan dan rujukan kaum Muslim dalam menyelesaikan persoalan mereka.

Pada masa tâbi‘în, ulama yang sangat masyhur adalah tujuh fukaha Madinah: Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Qasim bin Muhammad, Kharijah bin Zaid, Abu Bakar bin Abdirrahman bin Haris bin Hisyam, Sulaiman bin Yasar, Ubaidillah bin Utbah bin Mas‘ud, dan Nafi’, maulanya Abdullah bin Umar ra.  Adapun fukaha Kufah adalah Alqamah bin Mas‘ud, Ibrahim an-Nakha’i, Syaikh Himad bin Abi Sulaiman, syaikhnya Abu Hanifah. Fukaha dari kalangan penduduk Bashrah adalah Hasan Bashri.

Kalangan tâbi‘în yang juga terkenal sebagai ulama masyhur adalah Ikrimah Maula Ibnu Abbas, Atha’ bin Abi Rabi’ah, Thawus bin Kisan, Muhammad bin Sirin, Aswad bin Yazid, Masruq bin al-A’raj, al-Qamah an-Nakha’i, asy-Sya’bi, Syuraikh, Said bin Jabir, Makhul ad-Dimasyqi, dan Abu Idris al-Khaulani.

Abad ke-2 sampai abad ke-4 Hijrah adalah masa keemasan ijtihad hingga lahir 13 orang mujtahid yang membangun mazhab-mazhab fikih. Mereka adalah Sufyan bin Uyainah di Makkah, Malik bin Anas di Madinah, Hasan Basri di Bashrah, Syafii dan al-Laits di Mesir, Ishaq bin Rahawaih di Naisabur, Abu Tsaur dan Ahmad, Dawud azh-Zhahiri, dan Ibnu Jarir di Baghdad (As-Sayis, Târikh al-Fiqh al-Islâmi, hlm. 86).

Di antara para ulama tersebut, ada empat imam yang pendapatnya menjadi rujukan bagi ulama-ulama selanjutnya, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hanbal.  Keempatnya menjadi imam mazhab yang ajarannya juga dianut di Indonesia.

Tidak hanya di bidang keilmuan belaka, ulama dulu juga menjadi garda terdepan dalam melakukan aktivitas dakwah dan jihad. Imam Ahmad bin Hanbal, misalnya, pernah disiksa dan diasingkan pada masa Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq karena penentangan beliau terhadap gagasan kemakhlukan al-Quran.

Imam Ibnu Taimiyah, dipenjarakan karena mengkritisi pemerintah, namun ikhlas turut berjuang bersama penguasa dan rakyat menghadapi agresi tentara Mongol waktu itu.

Kematian ulama adalah pertanda buruk. Nabi Muhammad SAW memperingatkan, ‘’Sungguh, Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain’’ (HR Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra).

Mari berdoa, berusaha, agar jangan ada lagi ulama Rohingya terbunuh. Pun kita dukung penyemaian generasi muda calon ulama Rohingya di manapun mereka berada kini.

PPPA Daarul Qur'an saat ini tengah mempersiapkan perizinan untuk bisa masuk ke tempat-tempat pengungsian di Bangladesh. Insya Allah akhir September tim akan bergerak dengan membawa bantuan dari Masyarakat Indonesia.

Saat ini masyarakat Rohingya masih membutuhkan bantuan dari kita di Indonesia dan masyarakat Indonesia, #KitaBersamaRohingya.

Untuk donasi dapat disalurkan melalui Rekening Kemanusiaan atas nama Yayasan Daarul Quran sebagai berikut: BCA 603-030-8059, CIMB Niaga Syariah 520-01-00384-006 dan Mandiri 101-00999-19993 atau klik https://s.id/BANTUROHINGYA




Sumber : Republika

Comments

Popular posts from this blog

Tim Barzah Bantu Evakuasi Jenazah Tenggalam di Danau

Kisah Ade, Mantan Kuli Pasar yang Jadi Penulis Buku