Wasiat dan Syair Terakhir Imam Syafi’ie Sebelum Wafat
Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Gambarkanlah akhirat dalam kalbumu, dan jadikan kematian diantara kedua matamu. Jangan lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan-Nya kelak.
Takutlah kepada-Nya, jauhilah segala yang Dia haramkan, dan laksanakan yang Dia wajibkan. Hendaknya engkau bersama Allah (merasa selalu diawasi oleh-NYA) dimanapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu, walau nikmat itu sedikit.
Balaslah nikmat tersebut dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, bicaramu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang telah menzdhalimimu.
Sambunglah silaturahmi kepada orang yang memutusnya terhadapmu. Berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu. Bersabarlah terhadap segala musibah. Dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka karena ketakwaan. Nasehat menjelang wafatnya Al Imam Asy Syafi’i rahimahumullah kepada Al Imam Al Muzani.
(Tarikh Dimasyqi karya Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Ibnu)
Syair Terakhir Imam Syafi’ie
Diriwayatkan dari Imam al-Muzanniy murid terdekat Imam asy-Syafi’i, dia bertutur: “Aku membesuk asy-Syafi’i ketika beliau ditimpa sakit yang mengantarkannya pada ajal. Aku pun berkata padanya: ‘Bagaimana keadaanmu wahai guru?’
Beliau menjawab: ‘Keadaanku layaknya seseorang yang akan pergi meninggalkan dunia, yang segera akan berpisah dengan saudara, yang sejenak lagi akan meneguk gelas kematian, yang akan bertemu dengan buruknya amalku, yang akan menghadap Allah.
Aku tak tahu, apakah ruhku akan terbang melayang menuju surga, hingga aku pantas mengucapkan selamat padanya, ataukah akan terlempar ke neraka, hingga aku berbelasungkawa atasnya (dengan harapan akan ampunan-Nya)’. Kemudian beliau menengadahkan wajah ke langit, seraya bersenandung:
إلَيْكَ إلَهِ الْخَلْقِ أَرْفَعُ رَغْبَتِيْ وَإنْ كُنْتُ يَاذَا الْمَنِّ وَالْجُوْدِ مُجْرِما
وَلَمَّا قَسَى قَلْبِيْ وَضَاقَتْ مَذَاهِبِيْ جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّيْ لِعَفْوِكَ سُلَّمَا
تَعَـاظَمَنِيْ ذَنْبِيْ فَلَمَّـا قَرِنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّيْ كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا
فَمَازَلْتَ ذَا عَفْوٍ عَنِ الذَّنْبِ لَمْ تَزَلْ تَجُـوْدُ وَتَعْـفُ مِنَّةً وَتَكَـرُّمَا
فَلَوْلاَكَ (لَمْ يَنْجُ مِنْ) إِبْلِيْسَ عَابِـدٌ فَكَيْفَ وَقَدْ أَغْوَى صَفِيَّكَ آدَمَا
فَإنْ تَعْفُ عَنِّيْ تَعْفُ عَنْ مُتَمَرِّدٍ ظَلُوْمٍ غَشُوْمٍ مَايَزَايِلُ مَأْثَـمَـا
وَإنْ تَنْتَقِمْ مِنِّيْ فَلَسْتُ بِآيِسٍ وَلَوْ أَدْخَلْتَ نَفْسِيْ بِجُرْمِيْ جَهَنَّمَا
فَجُرْمِيْ عَظِيْمٌ مِنْ قَدِيْمٍ وَحَادِثٍ وَعَفْوُكَ يَاذَا الْعَفْوِ أَعْلَى وَأَجْسَمَا
Sumber : Republika
Comments
Post a Comment